Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 12 Sep 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • Sepak Bola
  • KPK
  • prabowo
  • MBG
  • Korupsi
  • Prabowo Subianto
  • Purbaya
  • Piala Dunia 2026
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Kesehatan / Benarkah Abu Vulkanik Bisa Sebabkan Kematian? Ini Penjelasan Epidemiolog
Kesehatan

Benarkah Abu Vulkanik Bisa Sebabkan Kematian? Ini Penjelasan Epidemiolog

Syifa FauziahIvan OWRITE
Last updated: September 9, 2026 11:17 am
By
Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Follow:
Ivan Syahruna Lubis
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Follow:
2 hari lalu
Share
Warga berjalan di dekat spanduk imbauan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau di Dermaga Canti, Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung
Warga berjalan di dekat spanduk imbauan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau di Dermaga Canti, Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/nz)
SHARE

Abu vulkanik kerap dianggap hanya sebagai gangguan akibat erupsi gunung api. Namun, paparan material tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu.

Daftar isi Konten
  • Lapisan Senyawa Asam
  • Risiko Lebih Tinggi
  • Paru Obstruktif Kronis
  • Alat Pelindung Pernapasan

Lantas, benarkah abu vulkanik bisa menyebabkan kematian?

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik yang membuatnya berbeda dari partikel polusi udara perkotaan.

Material tersebut dapat bersifat abrasif sekaligus membawa senyawa yang memicu iritasi.

Studi morfologi menunjukkan abu vulkanik itu punya tepi tajam ya, menyerupai pisau dengan permukaan cekung bekas gelembung gas, sehingga sifatnya jauh lebih abrasif dibanding partikel polusi udara biasa,”

kata Dicky kepada Owrite, Rabu 09 September 2026.

Lapisan Senyawa Asam

Menurutnya, abu yang masih segar dari letusan juga dapat mengandung lapisan senyawa asam, seperti sulfat dan dalam kondisi tertentu fluorida.

Baca juga:
Susur Selat Sunda Pakai Drone Thermal, SAR Kejar Jejak 5… Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian lima pewarta foto dan tiga awak kapal…
Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa, Salah Bersihkan Wajah Bisa Picu… Erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian menyusul aktivitas vulkanik pada awal…
Laut Kena Hujan Abu Anak Krakatau, Pakar Ungkap Nasib Ikan… Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta jadi pencemar atau…
  • Susur Selat Sunda Pakai Drone Thermal, SAR Kejar Jejak 5 Wartawan Hilang…
  • Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa, Salah Bersihkan Wajah Bisa Picu Iritasi
  • Laut Kena Hujan Abu Anak Krakatau, Pakar Ungkap Nasib Ikan dan Ekosistem

Kandungan tersebut dapat menambah efek iritatif ketika abu terhirup atau mengenai bagian tubuh.

Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menganggap paparan abu vulkanik dalam kondisi umum sebagai racun yang dapat menyebabkan kematian secara seketika.

Paparan abu vulkanik pada level yang dialami masyarakat umum saat ini sangat jarang ya, menyebabkan kematian langsung. Efek dominannya ya iritasi akut, batuk, sesak ringan, iritasi mata. Jadi, bukan racun yang mematikan seketika,”

ujarnya.

Risiko yang lebih serius, kata Dicky, justru dapat muncul melalui sejumlah kondisi tidak langsung. Misalnya, kecelakaan ketika warga membersihkan abu di atap rumah, kecelakaan lalu lintas akibat jarak pandang yang menurun atau permukaan jalan yang licin, serta memburuknya penyakit paru kronis.

Studi bahkan menemukan risiko fatal justru lebih banyak muncul dari faktor tidak langsung, seperti kecelakaan karena dia bersih-bersih di atap rumahnya ya, atau kecelakaan lalu lintas karena jarak pandang rendah ataupun licin,”

tutur Dicky.

Selain itu, paparan abu juga dapat memicu eksaserbasi atau perburukan berat pada orang yang sebelumnya memiliki penyakit paru kronis.

Karena itu, bahaya abu vulkanik tidak hanya berkaitan dengan efek iritasi sementara, tetapi juga kemampuan material tersebut memperberat penyakit yang sudah ada.

Risiko Lebih Tinggi

Dicky membedakan risiko berdasarkan jarak masyarakat dari sumber erupsi. Wilayah yang berada lebih dekat dengan lokasi letusan berpotensi menerima endapan abu dengan konsentrasi lebih tinggi.

Selain itu, masyarakat di sekitar sumber erupsi juga menghadapi kemungkinan bahaya sekunder.

Area dekat sumber erupsi seperti Banten, Lampung, atau dekat Selat Sunda risikonya lebih tinggi karena ketebalan abu yang jatuh jauh lebih pekat. Ditambah ada potensi bahaya sekunder seperti gas vulkanik dan gangguan jarak pandang yang ekstrem,”

katanya.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah dekat sumber erupsi diminta mengikuti informasi dan arahan evakuasi dari otoritas resmi.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bukan Debu Biasa, Ini Bahayanya bagi Anak hingga Lansia

Dicky mengingatkan warga agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum melakukan evakuasi apabila instruksi tersebut telah dikeluarkan.

Sementara itu, masyarakat di wilayah yang lebih jauh, termasuk Jabodetabek, umumnya menerima abu dengan konsentrasi lebih rendah.

Paru Obstruktif Kronis

Namun, paparan tetap perlu diminimalkan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Untuk masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, Dicky menyarankan penggunaan masker berkualitas dengan ukuran yang sesuai dan menutup pintu serta jendela rumah guna mengurangi masuknya abu.

Kalau area terpapar jauh seperti Jabodetabek, meski abu yang sampai umumnya lebih tipis, tetap ada risiko iritatif kumulatif, terutama untuk kelompok rentan seperti anak, lansia, dan penderita asma atau PPOK,”

ujarnya.

Dicky juga meminta masyarakat tidak mengandalkan informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi. Informasi terkait kondisi erupsi dan potensi bahaya sebaiknya merujuk pada sumber resmi seperti BMKG, BPBD, dan Badan Geologi.

Alat Pelindung Pernapasan

Di sisi lain, ia menilai pemerintah perlu memastikan ketersediaan alat pelindung pernapasan bagi masyarakat, terutama ketika permintaan masker meningkat.

Langkah tersebut dapat mencakup pengawasan terhadap penimbunan dan kenaikan harga yang tidak wajar, hingga distribusi masker gratis atau subsidi bagi kelompok rentan.

Selain perlindungan masyarakat, kesiapan fasilitas kesehatan juga dinilai penting untuk menganticipasi peningkatan pasien dengan keluhan akibat paparan abu vulkanik.

Pemerintah juga perlu memastikan komunikasi risiko dilakukan secara cepat dan konsisten serta memantau kualitas udara secara berkelanjutan.

Tag:Abu VulkanikDicky BudimanEpidemiologGunung Anak Krakatau
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Cara Menanam Cabai Rawit di Rumah, Mudah untuk Pemula
By Ossid Duha Jussas Salma
Cabai rawit
1
Laut Kena Hujan Abu Anak Krakatau, Pakar Ungkap Nasib Ikan dan Ekosistem
By Syifa Fauziah
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan abu vulkanik terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung,
2
Tiga Pegawai Dinas Pertanian Tewas Ditembak KKB, DPR Desak Pemerintah Bisa Tegas
By Rika Pangesti
Pasukan TPNPB-OPM di Yahukimo.
3
Harga Emas Hari Ini Jumat 11 September 2026: Global Tertekan, Antam Turun Rp25 Ribu
By Syifa Fauziah
Ilustrasi emas global dan Antam.
4
Susur Selat Sunda Pakai Drone Thermal, SAR Kejar Jejak 5 Wartawan Hilang Kontak
By Rahmat Baihaqi
Prajurit TNI AL memetakan posisi KRI Kerambit-627 saat operasi pencarian kapal cepat yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Kamis (10/9/2026).
5

BERITA LAINNYA

Tele-Robotic Surgery Pertama di Indonesia
Kesehatan

Dokter Bisa Operasi dari Jarak 1.000 Km, Tele-Robotic Surgery Pertama di Indonesia

Teknologi tele-robotic surgery memungkinkan dokter melakukan pembedahan dari lokasi yang berbeda dengan…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Sejumlah pekerja membawa ompreng Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan gerobak untuk disalurkan ke sekolah, di Sangkurio, Mamuju, Sulawesi Barat
Kesehatan

Puluhan Ribu Korban Keracunan MBG, PBHI Desak Presiden Kaji Ulang Program

Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) mendesak Presiden Prabowo…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Tenaga kesehatan merawat bayi yang baru dilahirkan bertepatan dengan HUT Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (17/8/2026).
Kesehatan

Abu Vulkanik Turun, Ini Cara Jemur Bayi Tanpa Perlu Keluar Rumah

Kebiasaan menjemur bayi di luar rumah sebaiknya dihentikan sementara ketika lingkungan sekitar…

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
By
Syifa Fauziah
Adi Briantika
2 hari lalu
Ilustrasi seorang balita bersama ibunya
Kesehatan

Face Shield Tak Efektif Lindungi Bayi dari Abu Vulkanik, Ini Penjelasan Epidemiolog

Epidemiolog sekaligus peneliti di Griffith University Australia, dr. Dicky Budiman, B.Med., M.D.,…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?